Penyebab krisis keuangan global disebabkan oleh :

  • Resesi 2009 + Rekapitalisasi bank 2009 yang terjadi di Amerika dan Eropa yang menyebabkan Sovereign Crisis 2011.
  • Krisis keuangan 2008/2009 berawal dari “Sub-Prime Mortgage” di AS.
  • Krisis keuangan 2008 mulai dirasakan kwartal III/2007 di AS kemudian menjalar ke pasar global pada akhir 2008.
  • Krisis 2011 berawal dari “Sovereign”, mulai di Eropa pada awal 2010.
  • Problem Sovereign : Utang tinggi, defisit fiskal tinggi di Eropa dan AS.
  • Belum ada solusi yang ampuh, beresiko menjadi krisis global 2012.

 

Untuk solusi krisis 2008/2009 di Indonesia adalah :

  • Ekspor turun sehingga fokus pertumbuhan hanya pada domestik.
  • Moneter dan Perbankan :
    1. Penurunan GWM (Giro Wajib Minimum)
    2. Penurunan BI rate, akses likuiditas repo SUN
    3. Menaikkan “Deposit Gurantee LPS” menjadi Rp. 2 M
    4. Menyelamatkan bank century karena situasi sistemik
    5. Perbankan cukup modal (CAR tinggi) dan cukup likuiditas (LDR rendah)
  • Pasar modal : Restriksi “short”, suspension, buy back saham dan intervensi SUN.
  • Fiskal : Ekspansi anggaran (defisit dinaikkan dari 1,8% ke 2,3% PDB).

 

Bagaimana dengan formula 2011/2012?

  • Jangan biarkan ‘bank sistemik’ jatuh di Eropa.
  • Injeksi likuiditas Dollar, Euro oleh bank sentral.
  • Pertahankan suku bunga rendahdi Eropa,AS
  • Problem : EM BRIC overheating, sulit ekspansi fiskal dan moneter.
  • Perluas mandate dan nilai EFSF (European Financial Stability Facility) secara signifikan (dari Euro 440 M menjadi Euro 1 T sampai dengan 2 T).
  • China,USdan G20 juga IMF harus membantu ‘bail out Eropa’
  • Solusi jangka panjang : Fiscal Union inEurope?
  • Problem : Euro zones terdiri dari 17 negara dengan fiskal, rating dan budaya yang berbeda.

 

Untuk solusi antisipasi krisis 2012 diIndonesiaadalah dengan cara :

  • Moneter :
    1. Likuiditas rupiah dan valas harus cukup
    2. Penurunan harga komoditas, inflasi terkendali ± 5%
  • Perbankan :
    1. LDR perbankan masih sehat, dibawah 100 pct
    2. CAR perbankan masih sehat, diatas 12 pct
    3. Kredit berjalan normal tapi tetap “prudent”
    4. Pantau situasi “global systemic risk”
  • Fiskal : Percepat pelaksanaan proyek, pencairan anggaran.
  • BOP : Antisipasi penurunan capital inflows, kurangi impor yang tidak perlu.
  • BOP : Diversifikasi ekspor, tourism, PMA.