Tak Butuh Empati, Curiga Jadi Senjata Utama

Salah satu upaya penyidik mengungkap kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang melibatkan Antasari Azhar adalah menggunakan pendekatan psikologi forensik. Ilmu ini tergolong langka. Tapi ada yang secara khusus mempelajarinya, bahkan hingga ke Australia.

Umurnya masih tergolong muda, 35 tahun. Keahliannya, jika disebutkan, relatif masih asing di telinga: ahli psikologi forensik. Apa bedanya dengan psikologi? “Kalau psikologi, itu ada unsur terapinya. Tapi kalau psikologi forensik, kita datang berbekal curiga lebih dulu,” kata Reza Indragiri, si ahli psikologi forensik itu, ditemui di rumahnya di kawasan Ciwaringin, Bogor, Minggu lalu (3/1).

Reza merupakan satu dari sedikit orang yang secara khusus menekuni psikologi forensik. Mungkin juga baru dia yang menjadi master psikologi forensik pertama di Indonesia. Ketua Jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta, itu memeroleh gelar MCrim (Forpsych) dari University of Melbourne, Australia.

Lebih lanjut pria kelahiran 19 Desember 1974 itu menjelaskan, psikologi forensik tidak untuk menimbulkan empati. “Kalau begitu, bisa-bisa yang timbul adalah yang baik-baik,” terang Reza. Sebaliknya saat melakukan pemeriksaan atau observasi, dia datang untuk membuktikan bahwa sesuatu itu tidak benar. “Jadi yang kita kedepankan adalah curiga,” katanya.

Lulusan psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu menerangkan, psikologi forensik merupakan cabang ilmu psikologi yang membicarakan korban dan aktor kejahatan untuk kepentingan criminal justice system (penegakan hukum). Ilmu itu ada sejak 1901, ketika terbit buku On The Witness Stand. Buku ini menceritakan dinamika psikologis saksi ketika dihadirkan dalam persidangan.

Namun oleh otoritas tertinggi psikologi, The American Psychological Association (APA), psikologi forensik baru diakui sebagai cabang ilmu tersendiri pada 1991. Meski demikian, untuk kepentingan penegakan hukum di Indonesia, penggunaan psikologi forensik masih sangat minim. “Selain itu, basis psikologi forensik secara keilmuan belum kuat sehingga kurang khas. Kalau (ilmu) psikologinya sudah diakui,” ujarnya.

Reza menerangkan, ada tiga objek psikologi forensik, yakni penegak hukum, korban, dan pelaku kejahatan. Salah satu fungsi psikologi forensik adalah mendeteksi sifat, perilaku, dan kepribadian penjahat. Termasuk di dalamnya tes kebohongan. Namun tentang yang disebut terakhir, Reza mengungkapkan hasil penelitian yang cukup menarik. “Berdasarkan penelitian di luar negeri, untuk lebih akurat mengetahui seseorang bohong atau tidak, maling ya diperiksa oleh maling, penjahat oleh penjahat,” urainya lantas tersenyum.

Reza mengakui, ilmu yang ditekuni itu tidak bisa menghasilkan banyak keuntungan secara finansial. Berbeda halnya dengan cabang ilmu psikologi yang lain. Bahkan Reza sudah diingatkan saat masuk di University of Melbourne. “Tapi saya pikir ini strategis. Dengan melihat Indonesia ke depan, psikologi forensik bisa mengambil tempat,” katanya optimistis.

Saat menempuh pendidikan, dia juga melakukan beberapa penelitian. Di antaranya terkait kejahatan seksual dan pengambilan keputusan dalam sidang. “Saya bisa mengembangkan penelitian tanpa harus menunggu ada kasus-kasus tertentu,” terang pria yang pernah mengajar di Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) itu.

Tentang praktik psikologi forensik di tanah air, Reza juga menyoroti banyaknya tindakan yang berangkat dari common sense daripada data terukur. Dia lantas menceritakan saat dirinya diminta ikut mengevaluasi penerimaan siswa di Akademi Kepolisian (Akpol) dari lulusan SMA dan S-1.

Sesuai dugaan awal Reza, banyak yang menyebut lulusan S-1 susah diatur. “Saya gunakan filosofi berjenjang. Kalau sudah S-1 cenderung akan pongah,” katanya. Namun temuan hasil penelitiaannya justru mengatakan sebaliknya. “Justru lulusan S-1 mempunyai keluwesan untuk dibentuk,” sambungnya.

Menurut dia, hasil temuan itu tidak mengejutkan. Alasannya dua. Pertama, berdasar psikologi perkembangan, usia SMA adalah saat ego sedang tinggi-tingginya. “Sebaliknya usia S-1 lebih teduh,” ungkap Reza.

Alasan kedua, kalau ada lulusan S-1 yang pongah, bisa jadi bukan karena latar belakang akademiknya. Harus dilihat modifikasi kurikulumnya, apakah cukup terbagi antara lulusan SMA dan S-1. “Makanya itu yang saya rekomendasikan (modifikasi kurikulum),” kata ayahanda Menza Fadiyan Amriel (6) dan Devinza Amriely (5) itu.

Hal itu juga sejalan dengan kebanyakan organisasi kepolisian di negara-negara maju. Banyak yang memberikan kualifikasi S-1 untuk masuk ke dalamnya. “Yang global di negara-negara lain, sudah meninggikan syarat masuk organisasi Polri,” jelas Reza.

Dengan psikologi forensik, Reza mempunyai sudut pandang lain dalam melihat kasus-kasus kejahatan, misalnya dalam kasus pemerkosaan. Umumnya polisi menilai bahwa motif pelaku pemerkosaan adalah pemenuhan hasrat seksual. Namun dia melihat justru motif kekuasaan merupakan hal yang utama dalam banyak kasus pemerkosaan di Indonesia.

Terkait pemeriksaan psikologi terhadap Antasari Azhar, Reza mengaku tidak mengetahui. Dia juga tidak menjadi bagian dari tim yang memeriksa Antasari, yang diketuai Yusti Probowati, ketua umum Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor). Saat dimintai pendapat, Yusti tidak bersedia menyampaikan. Alasannya, dia dibatasi oleh kode etik profesi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang disampaikan di persidangan, Antasari dinilai memiliki tingkat agresivitas tinggi. Namun tingkat agresivitas tersebut dapat ditutupi dengan kemampuannya mengendalikan emosi.(*)