Indonesia adalah negara penghasil bahan baku rotan terbesar di dunia. Sekitar 85% bahan baku rotan dihasilkan oleh Indonesia, sisanya dihasilkan oleh negara lain. Dengan demikian, kita memiliki domination value yang sangat luar biasa sebagai pelopor industri barang jadi rotan yang seharusnya berkembang menjadi negara penghasil produk barang jadi rotan terbesar dan terbaik di dunia. Namun pada kenyataannya, terdapat kendala non-teknis yaitu adanya kebijakan yang keliru, yaitu SK Menteri Perdagangan No. 36/M-DAG/PER/8/2009 (revisi dari SK No. 12/M-DAG/PER/6/2005) tentang Ekspor Bahan Baku Rotan sehingga industri ini tidak mampu berkembang seperti yang diharapkan. Kebijakan dimaksud sangat berpengaruh pada pencapaian target ekspor oleh karena potensi market global terambil oleh kompetitor yang memproduksi barang sejenis, yaitu China dan Vietnam. Bahkan potensi market China yang besarpun tidak dapat dipenetrasi karena China memasok kebutuhan dengan hasil industrinya sendiri. Industri mebel dan kerajinan rotan nasional saat ini menghadapi masalah persaingan global yang sangat berat, yakni semakin kuatnya China yang mendominasi di hampir semua jenis produk mebel kelas bawah dan kelas premium dan juga Vietnam sebagai produsen mebel yang tangguh di pasar global. China dan Vietnam dalam enam tahun terakhir telah merebut market share Indonesia akibat kemurahan pemerintah (Departemen Perdagangan) yang tidak cermat melihat dampak buruk yang akan terjadi pasca diterbitkannya kebijakan membuka keran ekspor bahan baku rotan, dengan argumentasi persediaan bahan baku rotan nasional yang melimpah dan tidak dapat diserap oleh industri nasional. Saat ini China dan Vietnam tampil menjadi kompetitor Indonesia dan telah mampu menjual produk barang jadi rotan dengan harga yang lebih murah. Stop ekspor! Seharusnya ada pemahaman yang komprehensif dan kesadaran kolektif bahwa menjual produk jadi jauh akan lebih menguntungkan ketimbang menjual bahan mentah atau setengah jadi sekalipun. Industri yang kuat adalah industri yang memiliki jaminan pasokan bahan baku dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Asmindo Komda Jabotabek menghimbau dengan segala kesadaran hati agar semua pihak khususnya pemerintah sebagai regulator untuk mendukung dan membuat pertumbuhan industri ini normal kembali dengan menghilangkan kebijakan-kebijakan yang kontra produktif dengan semangat pertumbuhan industri nasional. Idealnya, para stakeholder memiliki visi yang sama dalam menangani industri padat karya ini, yaitu dengan mewujudkan industri ini tumbuh dan berkembang secara sehat dan berdaya saing kuat melalui pemenuhan bahan baku secara cukup dan berkesinambungan serta menghindari terjadinya potensi pelemahan kemampuan industri secara global. Untuk itu, pemerintah harus mencabut kebijakan yang masih mengizinkan ekspor bahan baku rotan (SK. No. 36/M-DAG/PER/8/2009 revisi dari SK. No. 12/M-DAG/PER/6/2005) karena kebijakan ini kontra produktif dengan target pertumbuhan ekspor nasional. Kebijakan ini membuat bahan baku dapat diakses dengan mudah oleh pesaing utama Indonesia seperti China dan Vietnam. Padahal mengekspor bahan baku rotan sama dengan memberi peluru kepada musuh! Pasca keluarnya SK. 12/M-DAG/PER/6/2005 terjadi penyelundupan bahan baku kayu dan rotan secara besar-besaran. Namun, penyelundupan ini tidak dicatat secara akurat oleh BPS. Data ekspor yang tercantum dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) hanya mencerminkan 5% ekspor rotan Indonesia, sedangkan 95% sisanya diekspor tanpa tercatat. Penggelapan rotan ini marak terjadi di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Penyelundupan ini masih terus terjadi meski telah dibuat Permendag tentang ekspor rotan yang baru karena Permendag No. 36/ M-DAG/PER/8/2009, yang dikeluarkan 11 Agustus 2009, belum mengatur secara tegas perusahaan yang diizinkan mengekspor bahan baku rotan. Masih banyak perusahaan yang memegang dua izin sekaligus, yaitu sebagai eksportir terdaftar produk industri kehutanan dan eksportir terdaftar rotan. Akibat keluarnya kebijakan pemerintah yang membuka ekspor bahan baku telah menghapus Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, dari peta sentra industri mebel dan kerajinan rotan nasional. Kelangkaan bahan baku ini juga telah menyebabkan para pengusaha industri rotan di Jepara, Jawa Tengah, Tengerang Banten, Lampung, Palembang, sentra-sentra industri rotan di Surabaya, dan beberapa sentra industri mebel di beberapa wilayah dalam skala kecil mengalami kesulitan memperoleh bahan baku. Mereka mempertanyakan kebijakan pemerintah yang mengekspor bahan baku rotan, padahal mereka telah bersusah payah mengembangkan sentra-sentra industri berbasis rotan. Meskipun sentra-sentra industri di atas tidak sebesar Cirebon, namun potensinya cukup besar karena mempunyai pangsa pasar yang jelas di Eropa, AS dan beberapa negara Asia. Asmindo Komda Jabotabek mendukung program Departemen Perindustrian untuk mengembangkan industri barang jadi rotan di sentra-sentra penghasil bahan baku rotan di seluruh Indonesia. Jauh lebih baik menumbuhkembangkan barang jadi rotan nasional daripada mendukung berkembangnya industri barang jadi rotan di negara pesaing Indonesia dengan mengekspor bahan baku rotan yang berakibat melemahkan industri barang jadi rotan Indonesia dimana market share rotan Indonesia dirampok oleh negara kompetitor. Perlu disadari, ada tiga kegagalan dalam kebijakan membuka kran ekspor bahan baku rotan yang diberlakukan sejak 2005. Pertama, gagal mendatangkan devisa karena pasar furniture rotan telah direbut negara lain. Kedua, gagal dalam menjaring pajak ekspor karena lebih banyak yang bocor melalui aksi penyelundupan. Ketiga, gagal melindungi para petani pemetik rotan karena harga rotan yang diterima mereka sangat rendah. Selama ini petani pemetik rotan hanya jadi dagangan dari para ekportir bahan baku rotan, padahal nasib mereka selama kran ekspor dibuka tidak pernah baik. Harga di tingkat petani terbukti semakin menurun. Dibukanya kebijakan ekspor bahan baku rotan merupakan awal kemunduran industri mebel dan kerajinan rotan nasional. Industri ini semakin hari kian terpuruk, permintaan untuk produk rotan belum ada tanda-tanda peningkatan yang signifikan. Penurunan kinerja industri mebel dan kerajinan rotan ini bisa kita lihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai berikut: Tahun 2006 (US$ 343,775,586), 2007 (US$ 319,691,359), 2008 (US$ 239,001,186), 2009 (US$167,753,576), 2010 (US$138,079,002), 2011 per Juni (US$57,296,233)